Potensi Manusia

Konsep manusia menurut  dengan Muhammad husain abdullah  yang tertaung dalam bukunya berjudul mafahim islam jilid 1 yaitu

Manusia adalah jasad yang Allah tiupkan ruh, yang menjadi rahasia kehidupannya. Kemudian Allah memberikan potensi-potensi yang khas berupa kebutuhan fisik, naluri-naluri dan kemampuan berfikir. Dengan potensi-potensi itu manusia mengelola bumi; mengemban misi menjadi pengelola/pemakmur (Khalifah fil ardi) bumi atau justru merusaknya (mufsiduna fil ardi).”

Dalam definisi  diatas manusia berperan sebagai pengemban misi menjadi pengelola(Khalifah fil ardhi) oleh karena itu manusia diciptakan Tuhan dengan berbagai kelebihan dibandingkan dengan makhluik ciptaan yang lain. Potensi istimewa  yang diberikan Tuhan kepada manusia  yaitu  fisik, naluri, dan akal. Potensi yang diberikan Tuhan kepada manusia ini harus dimanfaatkan dengan baik. Potensi-potensi itu harus digunakan secara seimbang.

Fisik yang diberikan Tuhan kepada manusia sangat sempurna sekali, mata untuk melihat, hidung untuk mendengar, kaki untuk berjalan dan lain-lain. Potensi fisik yang diberikan Tuhan kepada manusia harus dipelihara dan dijaga jangan sampai digunakan untuk hal-hal yang tidak semestinya. Tetapi potensi fisik ini jangan sampai digunakan secara berlebihan misalkan saja bekerja terlalu keras sehingga mengabaikan kesehatan dan istirahat. Belajar terlalu keras sehingga melupaka makan. Hal-hal seperti itu sepatutnya tidak dilakukan karena telah menzalimi diri sendiri dan akibatnya kita bisa sakit akibat terlalu berlebihan.

Sumber:www.sman1maos.sch.id    http://www.paralympic.org                     http://www.paralympic.org

Gambar: Perjuangan atlet yang sedang berlaga pada turnamen Paralympic

Potensi fisik yang dimiliki manusia harus disukuri, jangan sampai disia-siakan. Kita yang memeliki potensi fisik yang sempurna dan tidak cacat seharusnya dapat berbuat yang lebih maksimal daripada  mereka yang mempunyai kekeurangan secara fisik. Jangan sampai semangat kita kalah dari mereka. Saya sebenarnya cukup terharu ketika melihat video atlet yang berjuang pada olimpiade cacat(paralympic). Mereka berjuang sungguh-sungguh walaupun sebenarnya mereka punya kekeurangan, tapi dalam jiwa mereka semangat dan tekad adalah segalanya seakan mereka sama seperti kita yang tidak cacat. Oleh karena itu dibandingkan dengan mereka seharusnya kita lebih bisa berkarya dan lebih bersemangat.

Potesi kedua yang dimiliki manusia adalah potensi naluri. Manusia memeiliki naluri berupa hasrat seksual,ego dan beragama. Hasrat seksual yang ada manusia harus dipelihara jangan dilawan, karena itu adalah anugrah. Karena naluri seperti itulah yang membedakan antara manusia dan malaikat.

Selain nalururi seksual, manusia juga memeliki ego. Apabila hewan-hewan lain survive karena didorong oleh instinknya, maka hewan yang bernama manusia ini survive karena didorong oleh diri-nya. Binatang tidak punya ego, hanya manusialah yang punya itu. Ego sangat penting bagi manusia untuk survive di dunia, sampai ia bisa menguasai dan mengeksploitir dunia untuk kepentingannya sendiri seperti sekarang ini. Itu satu sisi dari fakta tentang ego. Tetapi di sisi lain, adalah juga fakta bahwa manusia dengan inteleknya yang didorong oleh egonya tidak pernah bisa menciptakan perdamaian dan masyarakat yang “adil & sejahtera” di muka bumi ini. Dan saya rasa, hal itu tidak akan pernah tercapai selama manusia mengandalkan pada egonya untuk mengatur dirinya. Mengapa demikian? Karena nature dari ego itu adalah untuk mempertahankan diri (survive), tidak lebih dari itu, bukan untuk memahami sesuatu yang mengatasi (transcend) dirinya.[6]

Selain itu manusia juga mempunyai naluri beragama. Naluri beragama adalah fitrah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Jadi dapat disimpulkan bahwa ateis itu adalah keliru karena naluri beragama atau bertuhan telaha ada dalam diri manusia.

Sejak zaman berzaman, kita menyaksikan manusia itu sebagai makhluk yang mempunyai naluri beragama (gharizah tadayyun/spritual instinct). Belum pernah ada suatu masa pun, manusia hidup tanpa mensucikan sesuatu, samada dengan cara menyembah matahari, bintang, api, berhala, maupun menyembah Tuhan yang Hakiki, Yang Maha Suci, Allah Azza wa Jalla. Juga, belum pernah ada satu zaman pun yang mana manusia tidak menyembah sesuatu. Buktinya, penganut sosialisme yang menolak agama dan Tuhan, bukan bermakna tidak mempunyai ‘tuhan’. Akan tetapi, mereka mengganti objek penyucian mereka dari satu bentuk ‘tuhan’ kepada bentuk ‘tuhan’ yang lain. Mereka juga mengubah bentuk pensucian dari Tuhan kepada pahlawan, pemimpin dan benda-benda yang mereka anggap memanifestasikan keagungan

Para ahli sains percaya mereka telah menemui ‘Modul Ketuhanan’ (God Module) di dalam otak yang menyebabkan manusia percaya pada agama. Dikatakan bahawa terdapat saraf di dalam lobus temporal (temporal lobe) yang berkaitan dengan agama, bertujuan untuk mengwujudkan aturan dan keamanan dalam masyarakat [http://cas.bellarmine.edu]. Sekumpulan pakar neuro (saraf) di Universiti of California di San Diego juga telah mengenal pasti kawasan di dalam otak manusia yang berkaitan dengan pemikiran spiritual (kerohanian) dan ibadah. Penemuan mereka mendapati bahawa manusia telah diprogramkan secara genetik untuk percaya kewujudan Tuhan. [www.parascope.com]. Apabila seseorang menjejakkan kaki ke tempat suci seperti masjid atau gereja, perasaan ta’zim dan rendah hati ujud dalam diri. Lobus ini mempunyai kaitan dengan frontal cortex yang mengawal pusat penumpuan (attention centre) dan juga pusat kognitif (cognition centre) yang mengawal pemikiran logik (logical thinking). Eksperimen yang dijalankan mendapati wujud aktiviti elektrik di lobus temporal ini ketika para pesakit mengatakan mereka mengalami perasaan ‘ketuhanan’. Aktiviti elektrik turut dikesan di kawasan ini ketika pesakit mengalami krisis peribadi dan kekurangan gula dalam darah (hypoglycemia). [www.islamonline.net].”[7]

Namun tidak kira apa  yang ditemukan oleh para saintis, yang jelas, Allah Subhanahu wa Ta’ala telahpun menjelaskan kepada manusia, di dalam Al-Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya bahawa naluri mencari Rabb (Tuhan) sememangnya wujud pada manusia sebagai salah satu dari naluri yang di kurniakan Allah ke atasnya.
“Dan apabila manusia ditimpa kesusahan, maka ianya memohon kepada Tuhannya dengan kembali kepadaNya” [TMQ Surah Az-Zumar:8](sumber:Alquran)
Tegasnya, memeluk agama merupakan fitrah manusia yang tidak dapat disangkal. Persoalannya adalah, siapakah sebenarnya yang berhak menurunkan agama yang hakiki bagi manusia dalam mengatur keperluan naluri beragamanya? Oleh kerana pemenuhan atau pemuasan naluri ini adalah sesuatu yang bersangkutan dengan Zat Yang Maha Agung Allah Subhanahu wa Ta’ala, justeru, pemenuhannya mestilah datang hanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aktiviti untuk memenuhi naluri beragama ini dinamakan ibadah, yang berfungsi sebagai tali penghubung antara manusia dengan Penciptanya. Apabila hubungan ini dibiarkan tanpa aturan, pastinya akan menimbulkan kekacauan dan kekeliruan.

Dalam menjalani hidup, tentu saja kita sebagai manusia selalu ada masalah dan tantangan yang diberikan Tuhan. Apa yang Allah berikan itu pastilah untuk menguji kita sebagai hamba apakah tetap berada dijalan-Nya atau tidak. Setiap orang punya masalah tapi yang membedakan orang yang satu dengan yang lain adalah bagaimana orang tersebut me-manage n menyikapi masalah yang dihadapi. Secara sadar ataupun tidak, kita sering mengeluh dan berpikir negatif terhadap keadaan atau situasi yang kita alami. Berpikiran negatif kepada sesama manusia saja tidak baik, apalagi kalau kita sampai berpikiran negatif kepada Sang Pencipta
Keadaan kita tidak akan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain, kecuali dengan usaha kita sendiri. Memang semuanya hanya akan terjadi dengan takdir Allah, tapi dalam menjadikan segala sesuatu itu, Allah menggunakan sebab. Selama kita belum mengenal hukum perubahan ini dengan baik, maka segala upaya untuk mengatasi rasa cemas atau agar terbebas dari kesusahan, tidak berguna. Kita tidak akan mampu terbebas dari rasa cemas kecuali jika kita sendiri bersikeras untuk mengatasi hal ini.

Luruskan niat. Perbanyak dan optimalkan ikhtiar.Hilangkan penyakit hati. Sering kali kita sendirilah yang membuat rasa cemas terjadi pada diri kita. Juga kita sendiri yang memilih terjadinya kesusahan dan kesedihan. Penyakit ini tentu bukan karena virus akan tetapi penyakit akibat adanya kerusakan pikiran kita dan akibat sedikitnya iman kita kepada Allah SWT. Cintailah orang lain seperti mencintai diri sendiri. Kalimat sederhana itu bermakna dalam karena merupakan hal yang dapat membawa kebahagiaan bagi jiwa manusia. Ketika kita mencintai saudara kita seperti kita mencintai diri sendiri, dada kita akan terasa lapang. Jiwa kita terasa tenang dan kita akan merasakan puncak kepuasan. Kebahagiaan kita menjadi bertambah ketika kita menanggalkan titik2 hitam. Titik2 hitam ini bisa berupa rasa dengki, iri, benci, dendam, dan sebagainya. Jangan bersedih dengan masa lalu. Pikirkan n laksanakan masa kini. Persiapkan diri untuk masa depan. Adanya perasaan sedih karena masa lalu, juga karena mengingat peristiwa masa lalu yang tidak mungkin kembali lagi merupakan suatu kelemahan yang akan menjadikan seseorang terus merasa terus terbelenggu dan hanya akan menjadikannya lemah dan tak berdaya.

Testimonial Untuk Pak Eri

Ketika saya mendengar Bapak berbicara di depan kelas, rasa-rasanya saya sedang ikut pelatihan/training bukan lagi seperti kuliah biasa. Dari cara Bapak menyampaikan materi dan bagaimana cara berinteraksi dengan audiens, saya berpendapat bahwa Bapak bukan orang baru ketika berbicara di depan publik. Kata-kata yang terucap sangat mengalir sekali, terlebih saya adalah orang Sunda, jadi ketika ada kata-kata plesetan yang berbahasa Sunda saya menjadi tersenyum dan bangga dengan kata-kata itu karena saya lebih mengerti dan tahu daripada teman-teman yang lainnya yang tidak bisa berbahasa Sunda.

Saya mendapat banyak pelajaran yang berharga dari perkuliahan ini. Pertama adalah cara bapak dalam berbicara,saya sangat suka sekali. Yang kedua adalah isi dari perkuliahan ini sangat menarik sekali. Bapak menyampaikan bukan hanya ceramah tapi menurut saya adalah dakwah. Artinya isi dari perkuliahan ini tidak hanya sekedar masuk telinga kiri keluar telinga kanan,tapi dapat merekonstruksi pemikiran saya, dan memberikan paradigma yang baru dalam menghadapi kehidupan. Apalagi ketika Bapak berbicara tentang Mindset, saya baru kali  ini mendengar tentang bagaimana berpikir yang benar dengan cara pandang yang benar. Dengan pikiran yang benar karena cara pandang yang benar maka akibatnya saya bisa bertindak dan  berprilaku dengan  benar juga. Saya merasa sesuatu yang di depan saya adalah sesuatau yang kecil dan bukan sesuatu yang besar dan sulit lagi. Hal tersebut bukan berarti saya meremehkan masalah akan tetapi bersikap cerdas terhadap masalah tersebut dan mengguanakan mindset yang benar untuk mengatasi segala permasalahan itu.

Sekarang saya memandang bahwa urusan dunia seperti kuliah, mengerjakan tugas kuliah, paraktikum, mengerjakan laporan praktikum dan ujian adalah sesuatu yang kecil, karena masih banyak persoalan besar menanti di luar sana. Kehidupan kampus adalah miniature kehidupan saya ketika menghadapi dunia kerja atau dunia luar. Permasalahan di dunia luar sangat kompleks sekali dan tidak seperti masalah di perkuliahan yang terstruktur. Oleh karena itu kita harus bisa growth and survive sebagai tahap pertama dalam melatih diri menghadapi permasalahan yang lebih besar.

Yang ketiga ceramah bapak yang mempengaruhi hidup saya yaitu  ternyata  fakta dan informasi yang masuk kedalam diri saya bisa mempengaruhi mindset saya dalam berprilakau. Hal itu membuat pencerahan dalam diri saya karena sebelumnya saya berpendapat bahwa pikiran  saya tdak mempunyai keterikatan antara fakta, informasi dan mindset.

Melihat manfaat yang dirasakan mungkin, tidak ada salahnya kalau suatu saat Bapak tidak berkeberatan untuk kembali lagi memberikan ceramah di hadapan kami. Saya berharap di kemudian hari aka ada ilmu yang saya dapatkan lagi dan saya mungkin berharap agar ceramah seperti ini di sampaikan ke orang lain. Saya merasa sangat beruntung sekali dibandingkan dengan mahasiswa yang lain karena saya dapat mengambil banyak sekali  manfaat kuliah kimia dan masyarakat.

Daftar Pustaka

[1]      http://yayansah.wordpress.com/2008/05/10/manusia-dan-binatang/

[2]      http://psychclassics.yorku.ca/Maslow/motivation.htm

[3]      http://indonesia.ahrchk.net/news/mainfile.php/Constitution/22

[4]      http://www.netmba.com/mgmt/

[5]      http://www.selfmotivationnow.com/

[6]      http://newsgroups.derkeiler.com/Archive/Soc/soc.culture.indonesia/2006-09/msg00061.html

[7]      http://www.islamonline.net

Seluruh daftar pustaka diakses pada tanggal 2 Maret 2008